Sebagai suatu genre musik, emocore termasuk musik yang agak terlambat
masuk muncul di Indonesia, dimana sejak awal kemunculannya, pada tahun 1984,
baru sekarang ini emo muncul sebagai jenis musik yang sangat
banyak diminati semua kalangan, baik di Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang, Medan,
Kalimantan, Sulawes, dsb. Jenis Genre musik ini, sebagaimana genre musik
lainnya sangat mustahil muncul dengan sendirinya. Semua aspek budaya
manusia, termasuk di dalamnya hal ini, emo, punk, metal, hardcore, rock
'n' roll, sangat bersifat 'dialektis', yang artinya terbentuk dari
berbagai pengaruh budaya lain yang sebelumnya dan saat itu, ada. Tidak
dalam hal style dan audio-visual saja, tapi secara ideologis, musik
sangat besar dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosial subjek di
sekitarnya, jika kita lihat akar musik underground di dunia, semua
berasal dari satu 'GENRE', jazz, blues dan klasik. Dan corak
masing-masing generasi dari genre musik tersebut, sangatlah berbeda
satu sama lainnya, sesuai dengan kondisi zamannya, dan poin inilah yang
akan saya jelaskan di poin ke-3 di bawah.
Sebagai suatu komunitas, kesamaan hobi dan selera dalam musik, dalam
hal ini, emo-core, screamo, dsb. mendorong suatu pergerakan sosial yang
secara informal, mengumpulkan masyarakat muda untuk tergabung dalam
even-even musik khusus, melalui media langsung dan tidak langsung
menyatukan para individu yang berlatar belakang beda-beda dalam satu
kesamaan hobi; all stuffs around emo. Atau sebagai contoh di Indonesia
ini, kita mengenal suatu komunitas musik progesif rock yang bernama
'Indonesian Progressive Society' (IPS).
Sebagai suatu fenomena perubahan sosial, di sinilah yang paling
menarik. Sejak kemunculan 'Emo' dalam belantika musik Indonesia,
khususnya di generasi masyarakat Indie, kehadiran genre musik dan style
dari USA ini membawa angin kontroversial yang cukup besar.
Mengapa? karena berdasarkan fakta dari observasi saya, banyak diantara
mereka yang menyukai 'musik emo' tapi di sisi lain, mereka membencinya
hanya karena faktor 'fashion' (kulit luar)-nya saja, yang pada akhirnya
bercampur aduk dengan penafsiran yang 'abstrak' dan akhirnya,
melahirkan apresiasi musik yang abstrak pula tanpa ada kesimpulan
objektif yang nyata dari jenis musik tersebut.